Senin, 05 Desember 2011

Zenol

Biografi Angka Nol : Angka Nol muncul dari Timur
Ketakterhinggaan dan kekosongan mengandung kekuatan yang menakutkan orang Yunani. Ketakterhinggaan ditakutkan karena membuat semua gerak menjadi tidak mungkin, sedangkan kekosongan membuat pandangan mereka tentang alam semesta hancur berkeping-keping. Dengan menolak angka nol, filsuf Yunani memberi kekuatan bertahan selama dua milenium pada filsafat alam semesta mereka.
Doktrin Phytagoras pun menjadi pusat filsafat Barat. Seluruh alam raya diatur oleh perbandingan dan bentuk : Planet-planet bergerak mengalunkan musik surgawi di dalam ruang berbentuk bola. Namun apakah yang berada di luar bola semesta ini? Apakah ada ruang-ruang lain yang lebih besar dari bola semesta ini? Atau apakah titik terluar pada bola ini merupakan batas akhir alam semesta?
Aristoteles dan para filsuf sesudahnya berkeras bahwa tak ada ketakterhinggaan yang melingkupi bola-bola itu. Dengan mengadopsi ajaran ini, Barat tak memberi ruang bagi ketakberhinggaan. Mereka benar-benar menolaknya. Terima kasih untuk Zeno dari Elea, seorang filsuf yang dikenal paling menjengkelkan di Barat karena berhasil mengacaukan dasar-dasar pemikiran Barat dengan menggunakan ketakberhinggaan.

Zeno dilahirkan sekitar 490 SM, pada permulaan perang Persia-sebuah konflik besar antara Barat dan Timur. Meski Yunani berhasil mengalahkan Persia, namun filsafatnya takkan mampu mengalahkan Zeno. Zeno memiliki sebuah paradoks, teka-teki yang tak dapat dipecahkan oleh orang Yunani. Inilah teka-tekinya itu :
Achilles sang pahlawan perang Troya, yang terkenal sangat gesit, takkan pernah bisa menyusul kura-kura lamban yang melakukan start lebih dulu! Untuk memperjelas persoalan ini, mari kita gunakan angka-angka. Bayangkan Achilles berlari dengan kecepatan satu kaki per detik, sedangkan kura-kura tersebut berlari dengan kecepatan separuhnya (setengah kaki per detik). Bayangkan juga kura-kura tersebut start satu kaki lebih awal dari Achilles.
Achilles berlari, dan hanya dalam beberapa detik ia telah sampai di tempat kura-kura sebelumnya. Tetapi pada saat Achilles mencapai titik tersebut, kura-kura yang juga berlari telah maju sejauh setengah kaki. No problemo, kata Achilles. Achilles lebih cepat hingga dalam waktu setengah detik ia bisa berlari sejauh setengah kaki. Namun, sekali lagi, pada saat itu si kura-kura juga sudah bergerak ke depan sejauh seperempat kaki. Kemudian dalam sekejap – seperempat detik – Achilles menempuh jarak tertentu. Namun lagi-lagi, si kura-kura telah maju seperdelapan kaki. Achilles terus berlari dan berlari namun kura-kura selalu berada di depannya, tak peduli seberapa dekat jarak antara Achilles dan kura-kura.
Semua orang tahu bahwa di dunia nyata, Achilles pasti bisa berlari kencang melewati si kura-kura, tetapi argumen yang dibuat oleh Zeno membuktikan bahwa Achilles takkan pernah bisa menyusul kura-kura. Para filsuf zaman itu tak ada yang bisa menyangkal paradoks ini. Meski mereka mengetahui bahwa kesimpulan yang dibuat salah, namun mereka tak bisa menemukan kesalahan dalam pembuktian matematis yang dibuatnya. Senjata utama para filsuf adalah 1/2 , 1/4, tapi tampaknya deduksi logika tak mampu menghadapi argumen Zeno. Kelihatannya setiap langkah sudah benar, dan jika semuanya sudah benar, bagaimana mungkin kesimpulannya bisa salah?
Orang-orang Yunani dipusingkan oleh masalah-masalah ini, tetapi akhirnya mereka menemukan sumber permasalahannya : ketakterhinggaan. Ketakterhinggaan inilah inti paradoks Zeno. Zeno mengambil gerakan yang berkesinambungan dan kemudian membaginya menjadi langkah-langkah yang lebih kecil yang tak terhingga. Karena langkahnya tak terhingga, orang-orang Yunani berasumsi bahwa adu lari tersebut tak akan pernah selesai dalam waktu yang bisa ditentukan,begitu pikir mereka.

Angka Arab


Angka Arab adalah sebutan untuk sepuluh buah digit (yaitu: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9). Angka-angka adalah keturunan dari angka India dansistem angka Hindu-Arab yang dikembangkan oleh matematikawan India, yang membaca urutan angka seperti "975" sebagai satu bilanganyang utuh. Angka India kemudian diadopsi oleh matematikawan Persia di India, dan diteruskan lebih lanjut kepada orang-orang Arab di sebelah barat. Bentuk angka-angka itu dimodifikasi di saat mereka diteruskan, dan mencapai bentuk Eropanya (bentuk yang sekarang) pada saat mencapai Afrika Utara. Dari sana, penggunaan mereka menyebar ke Eropa pada Abad Pertengahan. Penggunaan Angka Arab tersebar ke seluruh dunia melalui perdagangan, buku dan kolonialisme Eropa. Saat ini, Angka Arab adalah simbol representasi angka yang paling umum digunakan di dunia.

Jumat, 02 Desember 2011

Penemuan Aljabar

Penemu Aljabar adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi. Aljabar berasal dari Bahasa Arab "al-jabr" yang berarti "pertemuan", "hubungan" atau "perampungan" adalah cabang matematika yang dapat dicirikan sebagai generalisasi dari bidang aritmatika. Aljabar juga merupakan nama sebuah struktur aljabar abstrak, yaitu aljabar dalam sebuah bidang.

Jenis-jenis Aljabar
Aljabar dapat dipilah menjadi kategori berikut:

Kamis, 01 Desember 2011

Penemuan Geometri


    Geometri merupakan salah satu cabang dalam ilmu matematika. Ilmu Geometri secara harfiah berarti pengukuran tentang bumi, yakni ilmu yang mempelajari hubungan di dalam ruang. Sejatinya, ilmu geometri sudah dipelajari peradaban  Mesir Kuno, masyarakat Lembah Sungai Indus dan Babilonia.
    Peradaban-peradaban kuno ini diketahui memiliki keahlian dalam drainase rawa, irigasi, pengendalian banjir dan pendirian bangunan-bagunan besar. Kebanyakan geometri Mesir kuno dan Babilonia terbatas hanya pada perhitungan panjang segmen-segmen garis, luas, dan volume.
    Di era kekhalifahan Islam, para saintis Muslim pun turut mengembangkan geometri. Bahkan, pada era abad pertengahan, geometri dikuasai para matematikus Muslim. Tak heran jika peradaban Islam turut memberi kontribusi penting bagi pengembangan cabang ilmu matematika modern itu.
    Pencapaian peradaban Islam di era keemasan dalam bidang geometri sungguh sangat menakjubkan. Betapa tidak.  Para peneliti di Amerika Serikat (AS) menemukan fakta bahwa di abad ke-15 M, para cendekiawan Muslim telah menggunakan pola geometris mirip kristal. Padahal, pakar matematika modern saja baru menemukan pla desain geometri itu pada abad ke-20 M.
    Menurut studi yang diterbitkan dalam Jurnal Science itu, para matematikus Muslim di era keemasan telah memperlihatkan satu terobosan penting dalam bidang matematika dan desain seni pada abad ke-12 M. "Ini amat mengagumkan," tutur Peter Lu, peneliti dari Harvard, AS seperti dikutip  BBC .
    Peter Lu mengungkapkan, para matemetikus dan desainer Muslim di era kekhalifahan telah mamapu membuat desain dinding, lantai dan langit-langit dengan menggunakan tegel yang mencerminkan pemakaian rumus matematika yang begitu canggih. ''Teori itu baru ditemukan 20 atau 30 tahun lalu," ungkapnya.

Laman

Cari Blog Ini